MISKONSEPSI MAHASISWAPGSD TERHADAP MIKROORGANISME
Wahyu Wido Sari1
Layung Rahmawati1
1. Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FKIP, Universitas Sanata Dharma, Tromol Pos
29, Mrican, Yogyakarta. Email: w.widasari@gmail.com
ABSTRACT
The children basic knowledge about microorganism is
formed during the process of learning from their environment. The concept that
embedded from early childhood is affected by family, community, and school.
Microorganism is a single cell creatures that able to hold its own metabolism.
The microorganisms consisting of bacteria, archea, single celled algae, yeast,
and protozoa. This study is a qualitative research (case studies) with a
limited number of samples. There are 48 students of PGSD in a private college
have provided opinions and perceptions of microorganisms. The whole samples
(100 %) said that microorganism mean bacteria. About 97,91% students said that
all the bacteria caused illness (germ) and 2,08% stated that not all of
bacteria caused illness. They gained that knowlegde about microorganisms at the
age of -12 years from parents (22,92%), public community (10,41%), elementary
school teachers (6,25%), and mass media (14,58%) and both of teachers and
parents (31,25%). Students misconceptions
regarding microorganisms indicated that parents, teachers, society, and the
mass media had important role in children’s basic knowledge formation. PGSD
students as prospective primary teachers is necessary to understand the
misperceptions against microorganisms and straighten it. Precise information
regarding the microorganisms will awaken the children on the advantages and
disadvantages of microorganisms and the types. The results of this study
provided a challenge to the science lecturer in assisting students to
straighten out the misconceptions
keywords: microorganism, germs, opinion
keywords: microorganism, germs, opinion
ABSTRAK
Pengetahuan dasar dari seorang anak terbentuk
selama proses belajar dari lingkungannya. Konsep yang tertanam dari usia dini
dalam diri seseorang anak dipengaruhi oleh keluarga, masyarakat sekitar, dan
sekolah.
Salah satunya adalah pengetahuan dasar anak tentang mikroorganisme.Mikroorganisme
adalah makhluk hidup bersel satu yang dapat melangsungkan metabolisme
sendiri. Mikroorganisme terdiri dari bakteri, arkea, ganggang bersel satu,
ragi, dan protozoa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif (studi
kasus) dengan jumlah sampel terbatas. Sebanyak 48 mahasiswa PGSD suatu
perguruan tinggi swasta telah memberikan opini dan persepsi mereka mengenai
mikroorganisme. Seluruh sampel (100%) mengatakan bahwa mikroorganisme adalah
bakteri. Sebanyak 97,91 % mahasiswa menyampaikan bahwa bakteri adalah kuman
yang menyebabkan penyakit dan 2,08% menyatakan bahwa bakteri ada yang
menyebabkan penyakit ada yang tidak. Pengetahuan ini mereka dapatkan saat usia
6-12 tahun dari orang tua (22,92 %), masyarakat (10,41 %), guru SD (6,25%),
media massa (14,58) dan gabungan dari
guru dan orangtua (31,25%). Miskonsepsi mahasiswa mengenai mikroorganisme
mengindikasikan bahwa orangtua, guru, masyarakat dan media massa memiliki peran
terhadap pembentukan pengetahuan dasar. Mahasiswa PGSD sebagai calon guru SD
dirasa perlu untuk memahami kesalahan persepsi terhadap mikroorganisme dan
meluruskannya. Informasi yang tepat mengenai mikroorganisme akan menyadarkan
seorang anak mengenai keuntungan dan kerugian dari mikroorganisme dan
jenis-jenisnya.
Kata Kunci: kesehatan sekolah, mikroorganisme, kuman, opini
PENDAHULUAN
Ilmu dan
pengetahuan dasar dari seorang anak terbentuk selama proses belajar dari
lingkungannya. Konsep dasar pengetahuan yang tertanam dalam diri
seorang anak dipengaruhi oleh keluarga, masyarakat sekitar, dan sekolah. Bilamana sebuah konsep yang baik dipahami
secara menyimpang dari pengertian ilmiah pada umumnya, akan menyebabkan
terjadinya kesalahan persepsi (Karadon and Sahin, 2010: 1). Salah satunya
adalah pemahaman dasar anak tentang mikroorganisme. Konsep siswa tentang mikroba
cenderung bergantung pada kondisi pemahamannya terhadap ilmu bioteknologi (Simonneaux,
2010: 3).
Dapat dikatakan bahwa kondisi pemahaman siswa terbentuk oleh pengertian
tentang wabah, orientasi budaya ilmu kesehatan, luaran dan pengetahuan dari sekolah,
pengalaman pribadi, mediasi sosio-kultural, dan kebingungan bahasa anak (Simonneaux,
2010: 3). Berdasarkan dua pembelajaran terdahulu oleh Nagy (1953:2) ditemukan
konsep pemaham kuman pada diri anak, yaitu : a) Anak cenderung menandai bahwa
setiap penyakit disebabkan kuman karena mereka kebingungan dalam membedakan
antara penyakit menular dan tidak menular., b) Mereka memahami hampir sebagian
besar penyakit disebabkan oleh satu jenis kuman; mereka kurang memperhatikan
fakta bahwa setiap wabah disebabkan oleh mikroorganisme tertentu, c) Tingkat
resistensi tubuh terhadap infeksi tidak dipertimbangkan, dan d) Proses infeksi
dipandang sebagai sesuatu yang terjadi secara otomatis; jika suatu infeksi
terjadi pada tubuh manusia, secara mutlak dikatakan sebagai gejala sakit.
Dengan kata lain, ketika obat bekerja pada tubuh, proses penyembuhan akan
segera terjadi.
Penelitian terhadap
pemahaman siswa mengenai IPA-biologi meningkat dalam dua dekade terakhir (Karadon and Sahin, 2010: 1). Siswa
mengembangkan konsep awal mengenai fenomena IPA biologi melalui tahap
pra-konsepsi. Pada tahap ini, pengetahuan dasar yang didapat bisa saja salah
dipahami atau miskonsepsi. Ketika siswa masuk ke sekolah formal, mereka sudah
membawa konsep-konsep yang didapat dari luar sekolah. Dalam proses
pembelajaran, siswa mendapatkan konsep alternatif, yaitu pemahaman baru yang
didapat dari guru atau sumber belajar yang lainnya. Miskonsepsi yang dibawa,
bisa jadi terkoreksi pada tahap ini menjadi pemahaman personal. Lebih lanjut,
Karadon dan Sahih mengungkapkan, salah satu contoh miskonsepsi yang ditelitinya
adalah mengenai pemahaman keliru siswa tentang mikroorganisme.
Miskonsepsi
merupakan hal wajar dalam tahapan belajar anak. Namun apabila kesalahan
persepsi ini tidak diluruskan maka konsep salah tersebut akan tertanam dalam
diri anak selamanya. Dalam penelitian ini membahas miskonsepsi mahasiswa
terhadap mikroorganisme melalui persepsi dan opini mahasiswa. Miskonsepsi
mikroorganisme telah menjadi masif dalam lingkungan masyarakat pada umumnya dan
sekolah dasar pada khususnya. Apabila guru memberikan persepsi yang salah hal
ini berakibat pada sudut pandang, perilaku, dan pengetahuan siswa. Bakteri yang
diindentikan sebagai kuman penyakit berhubungan erat dengan masalah school hygiene (kesehatan sekolah). Implementasi
tentang intervensi kesehatan di sekolah akan menjadi tidak berguna apabila
dalam keluarga tidak memiliki pemahaman serupa yang benar, sebagai siswa
seharusnya membagikan pengetahuan yang didapat di sekolah dalam lingkungan keluarga
dan masyarakat (Faccio, et al, 2014:2).Perbaikan
pemahaman konsep dasar calon guru sekolah dasar terhadap mikroorganisme menjadi
langkah awal mengubah persepsi dan opini masyarakat yang kurang tepat.
Tujuan
penelitian ini adalah untuk melihat adanya miskonsepsi mahasiswa PGSD mengenai
mikroorganisme. Miskonsepsi yang dimaksud adalah kesalahan dalam
mengidentifikasi makhluk hidup yang disebut mikroorganisme; opini; dan persepsi
mereka. Peneliti juga ingin melihat faktor-faktor yang mempengaruhi miskonsepsi
tersebut misalnya dari orangtua, guru, masyarakat, dan media massa.
METODE
PENELITIAN
Penelitian
ini berjenis kualitatif (studi kasus) dengan jumlah sampel terbatas. Jumlah
sampel adalah 48 mahasiswa yang terdiri dari 15 laki-laki dan 33 perempuan.
Definisi
Operasional
1.
Mikroorganisme adalah makhluk
hidup uniseluler.
2.
Makhluk hidup yang termasuk mikroorganisme
adalah bakteri, arkea, ragi, ganggang bersel satu, dan protozoa.
Teknik
Pengumpulan Data
Peneliti
bertindak sebagai observer participant.
Data dikumpulkan dengan cara recording atau merekam diskusi yang terjadi di
dalam kelas saat pembelajaran berlangsung. Rekaman tersebut berupa lembar kerja
mahasiswa dan catatan peneliti.
Data
kemudian dikelompok-kelompokkan berdasarkan poin-poin yang ingin dicapai. Pada
penelitian ini, data dikelompokkan dalam poin opini mahasiswa terhadap
mikroorganisme, resiko mikroorganisme bagi kesehatan manusia, dan sumber
informasi yang mempengaruhi opini mahasiswa.
HASIL
DAN DISKUSI
Opini Mahasiswa Terhadap Mikroorganisme
Ketika dilontarkan pertanyaan mengenai “makhluk hidup seperti apa
mikroorganisme bagi Anda?”, ada satu orang mahasiswa yang menjawab tidak tahu.
Lalu 47 mahasiswa yang lain menjawab bahwa mikroorganisme adalah bakteri, maka
satu mahasiswa yang menjawab tidak tahu kemudian menyampaikan bahwa menurutnya
mikroorganisme adalah kuman penyakit. Dari hasil diskusi ini disimpulkan bahwa
seluru kelas, atau 100 % mahasiswa setuju bahwa mikroorganisme adalah bakteri.
Diskusi
berlanjut dengan pertanyaan kedua, ketika mereka masih berusia 6-12 tahun
bagaimana mereka mendeskripsikan bakteri. Dalam diskusi ini mahasiswa
menyampaikan pendapat mereka mengenai bakteri sebagai kuman penyakit (97,91%). Penelitian
serupa pernah dilakukan oleh Karadon & Sahin (2010) di sejumlah SD. Survey
yang mereka lakukan memperlihatkan data 53 % siswa mengidentifikasi
mikroorganisme sebagai kotoran, polutan, dan makhluk hidup berbahaya. Namun
anehnya, sebagian dari mereka tidak mau memberikan contoh makhluk hidup yang
termasuk ke dalam mikroorganisme.
Resiko Bakteri Terhadap Kesehatan Manusia
Mahasiswa
beranggapan jika semua bakteri berasal dari sesuatu yang kotor dan menyebabkan
penyakit pada manusia. “Karena setiap
kali ada yang sakit, ada yang berkata sakit disebabkan oleh bakteri yang masuk
ke dalam tubuh, menyerang sistem kekebalan tubuh, entah berasal dari makanan
ataupun dari udara”. Hanya 1 mahasiswa (2,08%) yang mengatakan bahwa ada
pula bakteri yang baik sebagaimana diiklankan dalam TV. “Seingat saya, dulu ada iklan susu yang isinya bakteri baik melawan
bakteri jahat”. Sepertinya, dalam diskusi ini hampir tidak ada mahasiswa
yang menyadari bahwa mikroorganisme (termasuk bakteri) ada yang digunakan dalam
industri, terutama dalam industri pangan. Mereka sering mengkonsumsi makanan
hasil fermentasi seperti tempe, tape, yogurt, kecap, tanpa menyadari bahwa ada
peran mikroorganisme dalam pengolahan pangan tersebut.
Anggapan
mahasiswa terhadap mikroorganisme ini sesuai dengan hasil penelitian Karadon
& Sahin (2010). Dalam penelitiannya, sebagian besar siswa berpikir bahwa
resiko yang diberikan mikroorganisme jauh lebih besar dibandingkan manfaatnya.
Para siswa juga menyatakan bahwa mereka merasa tidak nyaman jika mendengar kata
mikroba atau mikroorganisme.
Sumber Informasi
Sumber informasi mengenai mikroorganisme bagi mahasiswa ketika berumur 6-12
tahun adalah dari orang tua, masyarakat, guru SD, dan media massa. Informasi
yang melekat pada benak mereka ini ada yang berasal dari salah satu sumber
ataupun gabungan dari beberapa sumber.
Sebanyak
22,92% mahasiswa mengingat informasi mengenai bakteri sebagai kuman penyakit
berdasarkan perkataan ibu atau orang tua mereka. Dalam diskusi, mahasiswa
menyampaikan pesan tersebut disampaikan berulang-ulang bila mereka hendak makan
sehabis bermain atau ketika mereka hendak bermain tanah. “Ibu saya mengatakan kalau mau makan harus cuci tangan supaya bakteri
tidak masuk ke badan kita. Kalau tidak cuci tangan sebelum makan bisa bikin
perut sakit. Maka saya mengira bakteri itu penyakit”.Hal ini senada dengan
hasil penelitian Simonneaux (2010) bahwa orangtua siswa bahkan yang berprofesi
sebagai perawat menyampaikan kepada anak mereka untuk “mensterilkan segala sesuatu, karena sesuatu yang kotor mengandung
bakteri. Bahkan salah satu anak mengungkapkan bahwa ibunya membenci semua
hal kotor dan bakteri.
Kata
“kuman” atau “germ” digunakan sejak
di Eropa dan Amerika ditemukan berbagai mikroorganisme yang menimbulkan infeksi
(Nagy, 1953: 227). Nagy menyampaikan bahwa anak-anak kemudian menangkap dan
merepresentasikan mikroorganisme sebagai penyebab manusia terserang penyakit.
Mereka tidak bisa membedakan antara penyakit menular atau tidak menular yang
disebabkan mikroorganisme, tingkatan infeksi, maupun proses penyembuhan
infeksi.
Tumbuh kembang anak tentu saja juga dipengaruhi oleh masyarakat dimana
mereka tinggal. Ada 10,41 % mahasiswa yang mengatakan mendapatkan informasi
dari masyarakat bahwa bakteri adalah kuman penyakit. Digali lebih dalam saat
diskusi, masyarakat yang mereka maksudkan adalah orang-orang yang tinggal di
sekitar rumah mereka saat mereka kecil. Sebagaimana orang tua mereka, informasi
ini diberikan saat mereka bermain atau hendak makan, mereka diingatkan untuk
membersihkan diri dari bakteri supaya terhindar dari penyakit.”Orang dewasa di sekitar saya suka
mengatakan, ‘Jangan pakai sendok yang sudah kena pasir (sudah dipakai
bermain tanah) untuk makan, karena ada
bakterinya’. Hal itu membuat saya menganggap bakteri sebagai kuman penyakit”.
Walaupun
di sekolah dasar diajarkan perilaku bersih pada berbagai mata pelajaran, hanya
beberapa saja dari mahasiswa yang mengingat informasi mengenai mikroorganisme
disampaikan oleh gurunya. Sebanyak 6,25% mahasiswa mengenang informasi mengenai
mikroorganisme ini disampaikan oleh gurunya saat mata pelajaran IPA. Ada
mahasiswa yang menyampaikan, teringat dengan jelas ekspresi guru yang
menunjukkan bahwa bakteri itu adalah sesuatu yang jahat dan harus dijauhi.
Selain
orang tua, ternyata media massa (TV) berpengaruh besar dalam memberikan
informasi mengenai mikroorganisme. Sebanyak 14,58% mahasiswa mendapatkan
informasi mengenai mikroorganisme sebagai kuman penyakit dari iklan di
televisi. “Saya pernah melihat iklan
televisi yang mengatakan kuman bakteri membawa penyakit”. Pada diskusi
lebih lanjut, iklan yang paling sering menunjukkan bakteri sebagai kuman
penyakit adalah iklan sabun dan cairan pembersih lantai.
Selebihnya,
ada 31,25 % mahasiswa yang tidak dapat mengingat sumber pertama informasi yang
mereka ingat sampai sekarang mengenai mikroorganisme sebagai penyakit. Tetapi
dalam ingatan mereka, mereka menyampaikan bahwa informasi yang didapat kurang
lebih sama yaitu bahwa mikroorganisme itu adalah bakteri, bakteri adalah kuman
penyakit, dan kuman penyakit berada di tempat yang kotor.
Hasil
penelitian ini memiliki beberapa persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Simonneaux (2010). Simonneaux menuliskan bahwa berdasarkan hasil
survey yang dilakukan pada siswa-siswa sekolah menengah, sebagian besar dari
mereka menganggap mikroorganisme sebagai kuman penyakit. Sumber informasi yang
membuat mereka meyakini itu adalah orangtua, guru, masyarakat dan televisi.
Pada penelitian ini, orangtua merupakan sumber yang dominan, sedangkan dalam
penelitian Simonneaux, sumber yang paling dominan adalah media terutama
televisi. Perbedaan yang kedua adalah jenis acara televisi yang menayangkan
mikroorganisme sebagai kuman. Pada penelitian ini, mahasiswa menyampaikan mereka
mendapatkan informasinya dari iklan sedangkan pada penelitian Simonneaux dari
film kartun berjudul “once upon a life”.
Dosen biologi sebagai fasilitator mahasiswa dalam meluruskan miskonsepsi
Mikroorganisme
bukan hanya bakteri dan tidak semua mikroorganisme menimbulkan penyakit.
Mikroorganisme yang menyebabkan penyakit pada manusia disebut sebagai patogen.
Patogen tidak hanya dari golongan bakteri, tetapi bisa saja protozoa, ragi,
ataupun alga uniseluler. Dalam mengajar mikrobiologi (ilmu yang memperlajari
mikroorganisme), tampaknya juga perlu disampaikan bahwa mikroorganisme yang
dimodifikasi baik secara genetik maupun morfologi memiliki dampak positif
maupun negatif, sehingga siswa tidak serta merta beranggapan bahwa
mikroorganisme adalah kuman penyakit yang bisa dijadikan senjata biologis
(Iancu, 2014).
Salah konsep atau
kalau dibawa dalam bahasa Indonesia dikatakan sebagai salah kaprah dalam
pengetahuan alam sebaiknya diluruskan. Guru sebagai pendidik yang memfasilitasi
siswa menggali pengetahuan dari pengalaman maupun dari referensi perlu membantu
siswa mendapatkan informasi yang benar. Etika biologi atau bioetik dalam
pendidikan, memandang bahwa calon guru yang menyampaikan materi biologi baik
dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi, hendaknya sesuai
dengan hukum-hukum yang ada dalam biologi (Iancu, 2014: 73). Lebih lanjut,
Iancu menyampaikan bahwa para guru hendaknya bertanggungjawab terhadap materi
yang disampaikan.
Berdasarkan penelitian
ini, pengaruh orang tua, media massa dan masyarakat cukup besar dalam pola
pembentukan konsep pengetahuan pada anak-anak. Maka ketika anak-anak datang ke
sekolah dasar, mereka sudah membawa pengetahuan dari pengalaman mereka
sebelumnya. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk mengenali masalah salah
konsep ini dan memfasilitasi pembenarannya.
Dosen
pengampu mata kuliah biologi, pendidikan IPA SD ataupun yang berkaitan IPA,
sebaiknya memahami adanya miskonsepsi ini. Dengan begitu, para dosen bisa
merancang pembelajaran yang menfasilitasi mahasiswa untuk mendapatkan informasi
yang lebih tepat mengenai mikroorganisme.
PENUTUP
Miskonsepsi
mahasiswa PGSD terhadap mikroorganisme tampaknya dilatarbelakangi oleh pengetahuan
dasar mengenai makhluk hidup ini dari orang tua, guru, masyarakat, dan iklan
dari televisi. Dari penelitian ini, bisa disimpulkan orang tua memiliki andil
yang cukup besar dalam penanaman konsep mengenai mikroorganisme sebagai kuman
penyakit.
Mahasiswa
PGSD sebagai calon pendidik, dirasa perlu untuk mengetahui informasi yang benar
mengenai mikroorganisme sehingga diharapkan akan mengurangi resiko miskonsepsi
atau salah konsep pada siswa SD. Maka, akan sangat baik jika dalam mata kuliah
IPA Biologi atau Pendidikan IPA diberikan materi mengenai mikroorganisme.
Mahasiswa juga bisa mengadakan penyuluhan terhadap siswa, guru, maupun
masyarakat melalui Program Kreativitas Mahasiswa ataupun mata kuliah Kesehatan
Sekolah.
DAFTAR
PUSTAKA
Faccio, E., et
al. 2014. Learning science by doing: a quali-quantitative research. J Social & Behavioral Sciences 116:
4654-4659
Iancu, M. 2014. Bioethical education in teaching
biology. J Procedia Social and Behavioral
Sciences 127: 73-77
Karadon, H.D., & Sahin, N. 2010. Primary
school students basic knowledge, opinions, and risk perceptions about
microorganisms. J Procedia Social and
Behavioral Sciences 2: 4398-4410
Nagy, M.H., 1953. The representation of “Germs”
by children. J The Pedagogical Seminary
and Genetic Psychology 83: 227-240
Simonneaux, L. 2010. A study of pupils’
conceptions and reasoning in connection with ‘microbes’, as a contribution to
research in biotechnology education. J
International Journal Science Education 22: 619-44
Tidak ada komentar:
Posting Komentar